ZainalAbidin.Net | Merayakan Hari Raya Idul Fitri Warga Rawa Bokor,Poncol,Gardu,Walungan tidak lepas dari sebuah tradisi menikmati Ketupat dengan berbagai macam cara hidangan,ada ketupat sayur dengan campuran Opor Ayam, Sambel gorong kentang yang membuat momen lebaran bersama keluarga makin akrab,nyaman serta bergembira dalam menyambut kemenangan dihari raya idul fitri 1441 H tahun ini.
Ketupat lebaran bukan hanya ditradisikan pada orang betawi Khususnya Warga Rawa Bokor dan Sekitarnya saja melainkan pada jaman
Kanjeng Sunan Kalijaga pun Sunan lah orang yang pertama memperkenalkan ketupat pada masyarakat Jawa. Ia kemudian membudidayakan tradisi dua kali Bakda, yaitu Bakda Lebaran dan Bakda Kupat (dimulai seminggu setelah hari Lebaran).
Menurut filosofi Jawa, ketupat bukan hanya santapan khas Lebaran, namun memiliki arti khusus. Ketupat atau Kupat dalam bahasa Jawa adalah singkatan dari Ngaku Lepat atau Laku papat. Kata “Ngaku Lepat” memiliki arti mengakui kesalahan, sementara itu Ngaku Lepat berarti kamu memiliki pengetahuan yang tepat bagi masyarakat Jawa
Setelah mengetahui sejarahnya, kita beralih ke filosofinya. Filosofi dari ketupat ini diketahui ada 4. Pertama adalah mencerminkan kesalahan manusia. Hal ini dilihat dari rumitnya anyaman bungkus ketupat di mana belum tentu semua orang bisa membuatnya dengan mudah.
Yang kedua adalah kemurnian hati. Setelah ketupat dipotong, akan terlihat nasi putih yang dianalogikan sebagai kebersihan dan kemurnian hati seseorang setelah minta maaf atas kesalahan yang mereka lakukan.
Ketiga adalah cerminan kesempurnaan. Bentuk ketupat yang sempurna terhubung dengan kemenangan kaum Muslim setelah melewati puasa selama sebulan dan akhirnya menginjak Lebaran.
Lalu yang terakhir adalah permintaan maaf. Ketupat biasanya disajikan dengan menu lain yang menggunakan bahan santan, karena itu dalam bahasa Jawa diucapkan “Kupat Santen” Kulo Lepat Nyuwun Ngapunten. Yang artinya adalah “Saya punya kesalahan, saya minta maaf”.

0 Komentar